Bulan: November 2013

ITC Finance Sewa Jasa Preman Cegat dan Rampas Sepeda Motor Konsumen

Medan, LN

Kecewa atas perlakuan debt collector ITC Finance yang telah melakukan penarikan sepeda motornya dengan cara preman, Jum’at (18/10) padahal konsumen tersebut telah membayar 32 bulan angsuran kredit sepeda motornya, maka konsumen PT Internusa Citra Multi Finance (ITC) mengadukan masalahnya tersebut ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen di Jl AH Nasution No 17 Medan. Pasalnya Sri Yuanita Chan telah beritikad baik untuk membayar sisa angsuran pokok yang hanya tinggal 4 (empat) bulan lagi namun selalu ditolak pihak ITC Finance. Dan Sri ingin mendapatkan Hak perlindungan Konsumen dari BPSK atas masalahnya itu.

Ceritanya pada Jum’at (18/10) yang lalu Sri sedang berhenti di halaman restoran KFC depan kampus Nomensen tiba-tiba dihampiri 4 orang yang tidak dikenalnya yang mengendarai 3 sepeda motor. Stang Honda Blade miliknya dipegang salah satu dari mereka dan mengatakan,”Kami dari ITC Finance kak Kakak kami mohon untuk ikut ke kantor ITC Finance Jl Serdang karena ada yang ingin dibicarakan di sana.” Namun mereka tidak ada memperlihatkan tanda pengenal atau identitasnya kepada Sri.

Sri menjawab.”Sebentar, saya masih ada urusan ke Jl Pembangunan III krakatau Medan untuk menemui teman saya. Kalau kalian mau ikuti saja saya kesana.”

Lalu keempat orang tersebut mengikuti Sri ke Jl Pembangunan III Krakatau Medan. Dan Sri sesampainya di Jl Pembangunan III segera menjumpai Uli Hutabarat temannya dan mengajak Uli untuk menemaninya ke Jl Serdang Medan kantor ITC Finance karena Sri khawatir kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan kantor ITC Finance Jl Serdang Medan.

Sesampainya di ITC Finance Jl Serdang Sri memarkirkan sepeda motor Honda Blade BK 6562 AAI di atas trotoar di depan kantor ITC tersebut. Uli temannya menunggu di bawah. Setelah itu Sri naik ke lantai 2 gedung ITC Finance untuk menjumpai bagian akunting menurut debt collector. Saat sedang berbicara dengan bagian akunting salah seorang debt collector naik ke lantai 2 menemui Sri dan meminta kunci kontak Honda Blade dengan alasan ingin menyamakan nomor mesin namun Sri tidak mau memberikan kunci kontaknya kepada debt collector tersebut. “jika mau menyamakan nomor mesin saya juga ikut karena sepeda motor saya bukan curian,” jawab Sri mempertahankan kunci kontak Honda Blade miliknya.

Tak lama setelah itu tiba-tiba Uli menelponnya dan mengatakan bahwa salah seorang dari debt collector memegang kunci T akan membongkar Honda Bladenya jadi Uli di bawah saja menjaga sepeda motor.

Karena persaan Sri kurang enak maka Sri pun segera turun ke bawah dan melihat Honda Blade miliknya yang tadi diparkirkannya di atas trotoar telah berpindah ke dalam ruangan kantor ITC Finance. Sri menanyakan kepada Uli bagaimana Honda Bladenya bisa berpindah masuk ke dalam ruangan tersebut dan Uli menjawab bahwa debt collector telah menggotong paksa Honda Blade Sri masuk ke ruangan ITC Finance.

Sri dan Uli pun berdebat dengan orang kantor ITC Finance kenapa tidak bisa membawa Honda Bladenya pulang yang mana Honda Blade tersebut notabene adalah milik Sri karena telah dibayarkan 32 bulan atau lebih dari Rp 18.000.000 (delapan belas juta rupiah).

“Kalau hanya sisa 4 (empat) bulan lagi saya akan bayarkan dalam tempo sebulan ini,” kata Sri kepada karyawan ITC Finance namun mereka diam saja.

Tak lama kemudian Kepala Koordinator Penarikan ITC Finance Jl Serdang Medan Jon Piter Nababan datng ke kantor dan setelah berdebat maka Sri disarankan untuk datang ke ITC Finance Jl SM Raja No 360 Medan untuk membayar angsuran pokok selama 4 bulan dan uang tarik juga dendanya.

Sekira pukul 15.30 WIB Sri hendak pulang namun masih tidak diperkenankan membawa kembali Honda Bladenya maka Sri meminta surat yang menyatakan Honda Bladenya ada di pihak ITC Finance dan setelah menandatangani surat Sri dan Uli pun pulang dan kunci kontak ada dengan Sri.

Esok harinya, Sabtu (19/10) Sri datang ke kantor ITC Finance di Jl SM Raja untu menemui bagian administrasi dan menanyakan apa saja yang harus dibayarkan untuk bisa mengambil Honda Bladenya kembali. Bagian administrasi Deby Bayu Citra yang didampingi Fredi Nerick Asmara Koordinator Collection mengharuskan Sri untuk membayar sisa angsuran pokok dan denda minimal Rp 500.000,- sampai tanggal 30 Oktober 2013. Dan Sri menolak saat disuruh juga membayar uang tarik sepeda motornya.

Rabu (30/10) Sri datang sendirian ke ITC Finance dan hanya membawa uang sisa angsuran pokok 4 bulan sebesar Rp 2.260.000,- tanpa uang denda. setelah menjumpai Deby Bayu Citra yang segera menghubungi Fredi Nerick Asmara untuk menemui Sri di meja kerjanya. Lalu Fredi dan Deby menolak uang tersebut dan mengatakan bahwa uang tersebut jika diterima adalah merupakan “uang titipan” jadi mereka tidak dapat menerimanya. Sementara pimpinan mereka menghendaki Sri membayar juga uang tarika yang dipermanis dengan kata uang administrasi sebesar Rp 1.250.000 dan uang denda sebesar Rp 1.800.000,-

Sabtu (02/11) Sri datang kembali namun tetap ditolak uang sisa angsuran pokoknya dan Rabu (06/11) Sri datang kembali dan bertemu dengan Kepala Cabang ITC Finance Otase Sitorus yang sedang berada di luar gedung ITC finance Jl SM Raja. Setelah mengemukakan bahwa Sri hanya ingin membayarkan sisa angsuran pokoknya yang hanya tinggal 4 bulan lagi namun Otase Sitorus menjawab bahwa jawabannya sama dengan kata anggotanya bahwa Sri mesti membayar uang tarik sebesar Rp 1.250.000,- dan denda Rp1.800.000,-

“Haram bagi kami menerima uang titipan,” ketusnya kepada Sri yang didampingi rekan wartawan yang saat diperkenalkan Sri Kepala Cabang ITC Finance Otasew Sitorus sempat menghentakkan tangan saat bersalaman dengan rekan Sri. (SR)

Kronologis Masalah Yang Dilaporkan ke BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) Kota Medan

Medan, 07 November 2013

Honda Blade BK 6562 AAI milik saya diambil secara kredit dari showroom PT Supra Jaya Abadi di Jl Tritura Medan pada bulan April 2010 yang lalu. Lama angsuran kredit 36 bulan.

Pembayaran angsuran awalnya cukup teratur hanya belakangan ini agak suka telat karena terkadang dipaksa bayar beberapa bulan sekaligus dan 4 (empat) bulan lagi mesti dilunasi.

Kejadian ini pada tanggal 18 Oktober 2013 yang lalu pada saat saya sedang berhenti di depan restoran KFC di depan kampus Nomensen Jl Perintis Kemerdekaan Medan untuk melihat sms yang masuk ke Hp saya sekira pukul 12.30 WIB. Tiba-tiba saya dihampiri 4 orang yang tidak saya kenal mengendarai 3 sepeda motor langsung memegang stang Honda Blade saya. Salah seorang mengatakan bahwa mereka dari ITC Finance dan menyuruh saya mengikuti mereka ke kantor ITC Finance Jl Serdang sebab ada yang ingin dibicarakan dan ditandatangani di sana. Tapi saya tidak mau karena masih ada urusan untuk menjumpai teman saya di Jl Pembangunan 3 Krakatau Medan. Maka mereka saya suruh mengikuti saya ke Jl Pembangunan 3 Krakatau Medan. Mereka pun mengawal saya takut saya lari.

Sesampainya saya di Jl Pembangunan 3 Krakatau saya pun menjumpai teman saya Romauli Hutabarat (Uli) dan selesai urusan saya dgnnya, saya pun mengajak Uli untuk menemani saya ke kantor ITC Finance di Jl Serdang Medan sebab hati saya kurang sreg dengan gelagat mereka.

Saya dan Uli sampai di ITC Jl Serdang sekira pukul 13.20 WIB dan sepeda motor Honda Blade saya parkirkan dalam keadaan terkunci di atas trotoar. Lalu saya naik ke atas (lantai 2) untuk menjumpai bagian administrasi menurut mereka. Uli di bawah menunggu saya. Tidak lama saya di atas petugas Debt Collector meminta kunci kontak Honda Blade saya untuk menyamakan nomor mesin. Namun tidak saya berikan dengan alasan kereta saya bukan kereta curian dan jika ingin menyamakan nomor mesin saya harus ikut juga. Tidak lama kemudian saya menerima telpon dari Uli yang mengatakan bahwa dia melihat bahwa salah seorang dari Debt Collector membawa kunci T akan membongkar Honda Blade saya jadi Uli di bawah saja untuk menjaga sepeda motor saya.

Karena perasaan saya kurang enak akhirnya saya pun akhirnya turun ke bawah dan sesampainya di bawah Honda Blade saya yang terparkir di atas trotoar telah berpindah ke dalam kantor ITC Finance. Saya tanyakan ke Uli bagaimana sepeda motor saya bisa naik ke dalam kantor ITC Finance tersebut? Uli mengatakan setelah dia memergoki Debt Collector yang membawa kunci T maka mereka menggotong paksa Honda Blade saya ke dalam kantor ITC Finance. Setelah itu mereka semua pergi.

Kami pun berdebat dengan orang kantor ITC Finance Jl Serdang sebab saya tidak dibolehkan membawa pulang Honda Blade tersebut yang notabene adalah milik saya sendiri hanya belum lunas dengan angsuran 4 (empat) bulan lagi karena saya telah membayarnya selama 32 bulan.

Setelah Kepala Koordinator Penarikan ITC Finance Jl Serdang John Piter Nababan datang saya berbicara dengannya didampingi beberapa teman lainnya menanyakan mengapa Honda Blade saya dimasukkan ke dalam kantor maka John Piter Nababan mengatakan bahwa saya harus menyelesaikan uang angsuran kredit 4 (empat) bulan lagi plus uang tarik (administrasi) dan dendanya juga di ITC Finance Jl SM Raja esok harinya.

Saya pun karena tidak ingin ada apa-apa dengan Honda Blade saya maka saya minta surat yang menyatakan Honda Blade saya ada dengan mereka. Setelah menerima surat penyerahan kenderaan dan saya tandatangani juga pada akhirnya namun kunci kontak tetap saya pegang dan bawa terus.

Esok harinya, 19 Oktober 2013 saya ke kantor ITC Finance di Jl SM Raja ditemani juga oleh John Piter Nababan untuk menjumpai bagian administrasi di sana untuk menanyakan apa saja yang harus saya bayarkan. Maka di sana saya menjumpai Deby Bayu Citra bagian administrasi dan Fredi Nerick Asmara Koordinator Collection yang mengharuskan saya dalam tempo sepuluh hari harus membayarkan angsuran pokok 4(empat) bulan dan denda minimal Rp 500.000,- di sekitar tanggal 30 Oktober 2013. Dan saya menolak saat mereka menyuruh saya membayar uang tarik atau uang administrasi.

Pada 30 Oktober 2013 saya datang ke ITC Finance Jl SM Raja membawa uang angsuran kredit 4 (empat) bulan dan menjumpai Deby bagian administrasi namun setelah Fredi Nerick asmara datang mereka menolak uang tersebut dan mengatakan bahwa jika mereka menerima uang tersebut hanyalah sebagai “uang titipan?” Saya heran dengan istilah “uang titipan” tersebut. Ternyata menurut Fredi Nerick Asmara jika mereka menerima uang tersebut sejumlah Rp 2.260.000,- (dua juta dua ratus enam puluh ribu rupiah) maka konsekuensinya mereka harus mengeluarkan Honda Blade saya sementara pimpinan mereka mengharuskan saya untu membayarkan uang administrasi atau uang tarik sebesar Rp 1.250.000,- dan uang denda siluman yang jumlahnya sangat mengejutkan Rp. 1.800.000,-

Setelah itu saya ada datang kembali hanya membawa uang angsuran kredit 4 (empat) bulan dan jawaban mereka tetap sama bahwa saya harus membayar uang tarik yang dipermanis dengan kata lain uang administrasi.

Rabu, (6/11) saya kembali mendatangi ITC Finance didampingi rekan wartawan di Jl SM Raja untuk menjumpai Kepala Cabangnya Otase Sitorus untuk membayar hanya uang angsuran pokok dan ditolaknya. Bahkan tangan teman saya dihentakkannya saat bersalaman. “Haram bagi kami menerima uang titipan, bu!” ketusnya. “Saya katakan ini bukan uang titipan tapi uang angsuran pokok yang harus saya bayarkan,” ujar saya kepada Kepala Cabang ITC Finance tersebut.

“Ibu harus membayar uang administrasi atau uang tarik sebesar Rp 1.250.000,- ( satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah) seperti kata anggota saya'” lanjutnya. Menurut kami uang angsuran pokok itu adalah uang titipan, lanjutnya.

Dan akhirnya, Kamis (7/11) saya datang ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di Jl AH Nasution no 17 Medan untuk mengadukan permasalahan ini karena niat baik saya ingin membayar uang angsuran 4 bulan selalu ditolak oleh pihak ITC Finance Jl SM Raja. (SR)