Mensos : Waspadai Permen Murah Dikemas Menarik Warna-Warni Mengandung Narkoba

Image result for waspadai permen murah mengandung narkoba
Image result for waspadai permen murah mengandung narkoba
Image result for waspadai permen murah mengandung narkoba
Image result for waspadai permen murah mengandung narkoba
Image result for waspadai permen murah mengandung narkoba
Image result for waspadai permen murah mengandung narkoba

 

Bengkulu, LN

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengim­bau para orangtua untuk lebih mengawasi jajanan buah hatinya terkait pene­muan makanan ringan me­ngan­dung narkoba yang dijual dalam bentuk permen seharga Rp1.000 per buah.

“Harganya murah, bentuk dan war­nanya unik-unik tapi mengandung nar­koba, jadi peranan orangtua menga­wasi anak-anaknya harus lebih ekstra,” kata Menteri saat menghadiri deklarasi kader wanita antinarkoba dan anti­kekerasan terhadap anak dan perem­puan di Masjid Al Huda Kota Beng­kulu, Jumat (17/6)

Menteri mengatakan bang­sa Indonesia meng­hadapi tantangan berat untuk menciptakan generasi yang tangguh dan cerdas. Sebab, upaya berbagai pihak untuk merusak masa depan gene­rasi pe­nerus juga semakin tinggi.

Beberapa fakta yang terjadi di ling­kungan masya­rakat bahwa pelaku ke­kera­san terhadap anak sudah dilaku­kan anak-anak. Demikian juga penjual­an narkoba tak jarang pela­kunya berusia anak-anak.

Dalam kasus permen mengandung narkoba menu­rut Menteri, harus dipan­dang dari sudut berbeda bahwa anak-anak membeli nar­koba, bukan membeli per­men.

“Sudut pandang ini akan membuat kita lebih hati-hati dan meningkatkan penga­wasan terhadap jajanan anak-anak,” ujarnya.

Oleh karena itu, Menteri mengapre­siasi gagasan Pe­ngu­rus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) untuk membentuk dan mendeklarasikan kader wanita antinarkoba dan antikekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Ini pertama kali ada kelompok ma­syarakat yang secara proaktif mende­kla­­rasikan diri untuk meme­rangi nar­koba dan kekerasan terhadap perem­puan dan anak,” kata Mensos.

Ia mengharapkan gagasan dan ko­mitmen anggota LDII Provinsi Beng­kulu itu dapat menular ke kelompok ma­sya­rakat lainnya di daerah ini, ter­masuk ke provinsi lain.

Deklarasi yang digelar di Masjid Al Huda Kelurahan Tebeng, Kota Beng­kulu itu dilakukan sebanyak 500 anak perempuan yang didominasi usia remaja.

“Mereka menjadi duta bagi keluar­ganya, lingkung­an­nya dan minimal bagi dirinya sendiri untuk tidak terlibat pe­nyalahgunaan narkoba,” kata Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Beng­kulu, Suharlan.

Perlu Komitmen

Terpisah, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Wa­seso menilai, diper­lukan komitmen ber­sama da­lam memberantas jaring­an narkoba di lapas-lapas.

“Harus dibangun komit­men bersama karena pena­nganan narkoba di lapas itu harus kita sikapi serius,” kata Kepala BNN, di Jakarta, Jumat.

Adanya pengungkapan baru-baru ini mengenai kasus narkoba jenis sabu di dalam pipa di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, yang ternyata dikendali­kan dari dalam lapas, adalah buk­ti bah­wa jaringan narkoba di lapas masih te­tap ada. “BNN telah membuk­ti­kan jaringan (narkoba) di lapas itu masih ada,” kata­nya.

Pihaknya mengatakan upaya mem­per­ketat bahkan mengisolir para napi dilapas tidak membuat napi terbatasi geraknya. Hal itu diduga karena adanya keterlibatan oknum sipir.

“Walaupun sedemikian ketatnya di lapas itu, bahkan ada upaya mengisolir tetap saja mereka (napi) mampu me­ngen­dalikan narko­ba di luar (lapas). Mereka punya kemampuan dan mereka bisa memengaruhi oknum sipir. Mereka bisa punya alat komunikasi kalau tidak ada kaitannya dengan oknum aparat enggak mungkin. Itu sebabnya mereka masih bisa eksis,” katanya.

Sebelumnya BNN menemukan sembilan pipa yang berisi narkoba jenis sabu-sabu di salah rumah di kawasan RT. 01 RW. 012, Kelurahan Pen­ja­ringan, Jakarta Utara, Selasa (14/6). Dalam penggerebekan itu, BNN me­nyita sembilan buah pipa besi yang di da­lamnya terdapat sekitar 50 kilogram sabu kristal. Sabu tersebut diketahui merupakan kiriman dari Guangzhou, Tiongkok.

Dalam kasus ini, BNN menga­mankan lima tersangka, berinisial HE, EN, ED, GN dan DD. Tersangka ED, GN dan DD diamankan petugas di lokasi kejadian, sementara HE dan istrinya, EN, di­aman­­kan di rumahnya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

“HE merupakan mantan napi Lapas Cipi­nang yang saat ini berstatus bebas bersyarat. Seolah tak jera, HE kembali berulah. Dalam bertransaksi, HE menggunakan identitas EN untuk membuka rekening dan alamat tujuan pengi­riman barang,” kata Budi.

Para tersangka yang ditangkap itu diken­dalikan napi yakni AK yang masih mendekam di La­pas Cipinang, Jakarta yang merupakan bagian dari ke­lompok terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman, katanya. (astrid)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s