Bulan: September 2016

Polresta Medan Kini Levelnya Naik Jadi Polrestabes

Medan, LN. Kepolisian Resort Kota (Pol­resta) Medan, satu diantara 500 Polres lainnya di Indonesia yang dtingkatkan menjadi Polres Kota Besar (Polrestabes) atau Polres Metro. Peningkatan level dari Polresta ke Polrestabes ini sejak 23 September 2016 lalu.

Keputusan tersebut tertuang dalam surat telegram Kapolri Jenderal Tito Karnavian nomor ST/2325/IX/2016 tanggal 23 September 2016. Dalam surat telegram ter­sebut, Kapolri tetap me­nun­juk Kombes Pol Mardiaz Ku­sin Dwihananto sebagai Ka­pol­restabes Medan, dan AK­BP Ma­hedi Surindra sebagai Wa­ka­pol­restabes Medan.

Diketahui, perubahan status dari Polresta Medan menjadi Polrestabes Medan akan me­ningkatkan jumlah personel kepolisian di Sumut khususnya di Kota Medan. Tujuan peningkatan tersebut untuk menekan tindak kejahatan pidana di Kota Medan.

Selain itu, dengan berubah­nya status Polresta Medan men­jadi Polrestabes, gedung kantor pun akan turut pindah ke Jalan Bhayangkara Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang.

Sedangkan Markas Polresta Medan saat ini nantinya akan menjadi Polsek Medan Timur, yang selama ini dianggap berada di lahan milik PT KAI. Polresta Medan yang naik menjadi Polrestabes Medan, pangkat pemangku jabatan biasanya juga akan naik. Seperti, jabatan Kepala Satuan (Kasat) biasa dipegang oleh polisi ber­pang­kat Komisaris Polisi (Kom­pol).

Dengan naiknya status men­jadi Polrestabes Medan, hanya polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) junior yang bisa memegang jabatan Kasat, seperti Ka­sat­reskrim, Narkoba, Lantas, In­telkan, dan lain se­bagainya.

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto ketika dikonfirmasi, Sabtu (24/9), membenarkan peningkatan sta­tus Polresta Medan menjadi Polrestabes Medan. Dia berharap dengan me­ningkatnya status menjadi Pol­restabes Medan dapat lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Dengan meningkatnya sta­tus menjadi Polrestabes Me­dan diharapkan lebih dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Peningkatan status tentunya akan disertai dengan peningkatan sumber daya yang ada,” ujar Mardiaz.

Tingkatkan Pelayanan
Sementara, Pengamat Hu­kum, Teguh Syuhada Lubis me­ngingatkan, agar polisi ha­rus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Soalnya, Polresta Medan sudah naik menjadi Polrestabes. Selain itu, tindak kriminalitas juga harus berkurang.

“Peningkatan status ini di­harapkan dapat meningkatkan pelayanan. Sebab, Kota Medan ini penuh dengan kompleksitas masalah, baik tingkat kriminal jalanan dan lainnya. Jangan hanya perubahan status tapi tak dibarengi dengan memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat,” ujar Teguh, Minggu (25/9).

Polisi sebagai pelindung dan penganyom masyarakat, le­bih jauh, Teguh berpesan, agar Kapolda Sumut Irjen Pol Raden Budi Winarso dapat me­­nem­patkan pejabat yang mema­hami Kota Medan.
Soalnya, jabatan Kasat akan dirubah menjadi AKBP. Otomatis, ada perubahan yang selama ini dijabat oleh Kompol.

“Jangan sampai terkesan, perubahan status tak dibarengi dengan pejabat yang mengerti dan faham Kota Medan. Ha­rus­nya, di tempatkan pejabat yang faham dan mengerti Kota Medan, untuk para Kasat yang nantinya berpangkat AKBP. Sebab, masyarakat Kota Medan ini beragam,” ujar dosen Fakultas Hukum UMSU ini.

Tak lupa, Teguh juga menilai, peningkatan level ke Polrestabes ini, harus dibarengi dengan penyesuaian polsek-polsek. Artinya, masih ada satu polsek yang memegang dua kecamatan, belum menunjukkan kinerja yang maksimal. Masih banyak tunggakan kasus dan tidak sesuainya luas wilayah yang dipegang.

Misalnya, Polsek Percut Sei­tuan yang memegang dua ke­camatan, Medan Tembung dan Percut Seituan. Sementara, luas wilayah Kecamatan Percut Seituan itu diduga tak terjangkau hingga ke wilayah pesisir sana.

Selain Polsek Percut Seituan, ada Polsek Sunggal. Kemudian Polsek Pancurbatu yang wilayah hukumnya hingga ke Sibolangit. “Dengan ditingkatkan Polres­ta Me­dan ke Polrestabes Medan, perlu kiranya ada pembahasan dan perhatian serius untuk polsek yang memegang dua kecamatan. Apakah itu masih pantas digabung,” tutup praktisi hukum, alumni Magister Hukum Pidana UMSU ini. (SR)

Iklan

Anak Durhaka Ludahi dan Siksa Ibu Kandung Hingga Bocorkan Ban Sepeda Motor Ibunya Pakai Pisau Dapur

Medan, LN.

Sebuah keadaan yang sangat memprihatinkan, di mana seorang anak sudah tidak lagi memiliki rasa hormat kepada ibu kandungnya yang dulu dengan susah payah mengandung, melahirkan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian.

Entah apa yang ada di dalam pikiran Nabila Novalia (23) yang teganya menyiksa dan menganiaya ibu kandungnya sendiri, Sri Yuanita (48) hanya karena masalah sepele. Nabila merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari mantan suami Sri, Kus Endro (50) yang telah menikah lagi kalau tak salah tahun 2003 lalu dengan seorang janda yang tidak punya anak.

Nabila diminta Sri menempati rumah tersebut karena kasihan melihat cucunya saat Nabila dan suaminya menyewa rumah model kopel yang kecil di Gg Lori tahun 2013-2014 yang lalu. “Saya ingin cucu saya bisa bermain di rumah saya karena rumah dan halamannya cukuplah untuk tempat bermain cucu saya, ” ungkap Sri kepada LN di Mapolsekta Delitua, Kamis (15/9).

Usai mengajar di PAUD miliknya,  Selasa (13/9) sekira pukul 11.30 WIB Sri belanja sebentar untuk memasak sop dari daging qurban yang didapatnya pada Hari Raya Idul Adha sehari sebelumnya di rumahnya Jalan Eka Surya Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor. Sambil berjalan menuju dapurnya, Sri menegur cucunya Arran (3,5) anak laki-laki Nabila yang sedang berada di meja makan bersama Uswatun Hasanah, teman dekat pakleknya. Bukan memarahinya. Namun Nabila malah membentak mamanya, “Jangan kau marahi anakku!” Sri menjawab, ” Mana ada mama marah sama Arran. Malah kau yang suka membentak-bentaknya belakangan ini padahal dia tidak nakalnya.” Nabila seperti naik pitam dan merepet-repet seperti tidak senang.

Sri yang sedang mencuci daging sop yang akan dimasaknya tidak mempedulikan repetan Nabila kepadanya. Ucapan Nabila yang mengatakan bahwa  dialah yang membayar tagihan listrik dan air sejak dia dan suaminya pindah ke rumah (statusnya rumah itu harta bersama papa dan mamanya sejak bercerai tahun 2002 yang lalu) tersebut tahun 2014 yang lalu. “Kalau kau menyewa rumah orang lain listrik dan air toh tetap kalian juga yang membayarnya?, ” balas Sri balik bertanya kepada Nabila.

Sebelumnya Nabila dan suami serta anaknya menyewa rumah di Jalan Brigjend Katamso Gg Lori Kampung Baru Medan.

Akhirnya Sri berkata, “Bulan depan biar mama saja yang membayar tagihan listrik di rumah ini.” Nabila semakin naik pitamnya dan mengambil air setimba lalu menyiramkannya ke kepala dan tubuh Sri sambil meludahinya berkali-kali. Habis setimba ditambahinya lagi air lalu disiramkannya kembali ke tubuh Sri begitulah terjadi berulang-ulang. Sri hanya dapat mengucap “astaghfirullah’ sambil menangis tertahan.

Karena sudah tidak dapat menahan diri lagi Sri bangkit menuju ke dalam rumah namun pintu dapur dikunci Nabila dari dalam sehingga Sri mengambil langkah lewat pintu pagar samping rumah. “Mama laporkan kelakuanmu ke Polsek Delitua nanti,” kata Sri. Begitu sampai ke teras tempat Sri menaruhkan sepeda motornya kelihatan Nabila sedang menusuk ban depan sepeda motornya Honda Blade BK 6562 AAI. Padahal di teras tersebut masih ada beberapa murid Paud yang belum pulang. Sri diam saja lalu masuk ke kantornya mengambil kunci dan baju tangan panjang karena niatnya akan melaporkan Nabila ke Polsekta Delitua secepatnya.

Nabila lalu mengambil buku nikahnya dan menunjukkan kepada Sri dan terjadi perdebatan sebentar tentang buku nikah tersebut yang membuat Nabila semakin pitam. Lalu mendorong Sri berkali-kali hingga tersungkur. Setelah tersungkur lalu Sri ditariknya kembali lalu didorongnya lagi berkali-kali hingga mengalami luka lebam di tangan kirinya dan sampai akhirnya Nabila merobek-robek baju Sri hingga koyak.

Dengan baju koyak tersebut Sri ke bengkel abangnya di Jalan Karya Jaya dan meminjam baju istri keponakannya agar dapat bekerja lagi. Di bengkel tersebut Sri merasakan pergelangan tangannya ngilu dan lehernya sangat perih.

Sore harinya Sri datang ke Polsekta Delitua melaporkan kejadian tersebut namun diurungkan niatnya karena sayang kepada anaknya tersebut. Akhirnya Sri pergi ke Kampung Baru menumpang tidur di rumah temannya karena kalau kembali ke rumah Gedung Johor keadaan masih panas khawatir Nabila akan mengajaknya bertengkar kembali. Sri berpikir lebih baik menghindar untuk sementara.

Kamis (15/9) Sri kembali ke PAUDnya bermaksud untuk mengajar peserta didik Paudnya dan Nabila kembali marah-marah di depan peserta didik Paudnya. Akhirnya Sri memutuskan untuk benar-benar melaporkan anak kandungnya tersebut ke Polsekta Delitua karena tidak merasa nyaman lagi mengajar di PAUD tersebut.

“Saya tidak nyaman lagi mengajar di Paud saya sendiri karena si Nabila masih lantam kali mulut padahal yang masih menumpangnya dia di rumah saya dan papanya karena itu rumah adalah harta bersama kami dahulu. Nabila itu tak mengerti tentang hukum. Anehnya Kepling Lingkungan I, Yahya yang usia sudah uzur koq malah lebih percaya cakap si Nabila yang masih hijau pengalamannya itu dan hal itu jadi pertanyaan besar buat saya? Sepertinya Kepling tersebut harus diganti karena sudah tak tanggap lagi dengan sebuah kejadia di daerahnya” ungkap Sri kepada LN, (15/).

Sebenarnya Nabila sudah acapkali memaki-maki ibunya tanpa sebab dan pernah juga menyerangnya di tahun 2015 hanya karena Sri salah ucapan tentang cucunya. Sri heran dan sedih berpikir bagaimana mungkin dia melahirkan seorang anak seperti itu? Herannya Nabila semakin menantang ibunya sendiri sejak belakangan waktu ini saja sejak papa Nabila atau mantan suami Sri memberikan uang yang banyak kepada Nabila.

“Nabila semakin angkuh dan sombong kepada saya sejak papanya mengajaknya ikut membawa tour ke Jogyakarta baru-baru ini mulai  Agustus 2016 dan papanya memberikannya uang yang sangat banyak. Sehingga pulang dari Yogya Nabila membeli segala macam barang termasuk meubel. Memang sejak tahun 2014 yang lalu saat Nabila masih menyewa di Gang Lori Kampung Baru Kecamatan Medan Maimun pun Nabila sudah pernah diajak ke Bandung membawa tour karena papanya buka travel sederhana. Anehnya bahkan seakan-akan saya yang menumpang di rumah tersebut. Padahal uangnya semua itu dari papanya tapi lagaknya bukan main seakan-akan uangnya sendiri. Bahkan sebelum papanya tour ke Bandung baru-baru ini bersama adiknya, Iboy mantan suami Sri mentransferkan sejumlah uang kepadanya.

Ada indikasi seolah-olah Nabila yang bertanggung jawab atas rumah tersebut dengan trik dari mantan suami Sri yang notabene adalah papa anak-anak memberikan uang banyak agar si Nabila dapat bermulut besar dan lagak kepada tetangga di sekitar rumah tersebut. Sehingga orang-orang akan berpikir Nabila adalah anak yang bertanggung jawab terhadap rumah harta bersama orang tuanya itu. Uang dari mana dia kalau bukan Kus Endro, papanya yang memberikan uang tersebut. Muak saya melihat keangkuhan dan sombong juga kelakuannya yang semakin durhaka itu. Belum kaya aja udah sombong dan durhakanya kayak gitu. Sesak nafas kalau ingat semua kelakuannya selama ini” pungkas Sri. (tio)

 

Kepling Belawan Sicanang Diburon Poldasu Akibat Jual Hutan Bakau

Belawan, LN. Penimbunan ruang terbuka hijau (RTH) dan hutan bakau di Kota Belawan dan sekitarnya berujung terjadinya banjir rob. Jika sebelumnya banjir rob dapat diprediksi kapan datangnya namun kini tidak lagi setelah puluhan hektar hutan bakau dan ruang hijau di Kelurahan Sicanang ditimbun.

Padahal hutan bakau ini sebelumnya merupakan daya tarik Kampung Sicanang, satu-satunya kelurahan di Sumatera Utara yang masuk dalam daftar Kampung Iklim 2015 oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Entah dimana letak pemahaman Kepling Belawan Sicanang, Fadang tentang arti ruang terbuka hijau dan daya tarik  hutan bakau sebagai jalur wisata yang ada di Kampung Sicanang sehingga tega menjualnya dengan melakukan pemalsuan surat tanah ruang hijau kepada sejumlah pengusaha PT Belawan Indah dan kontraktor alat berat, Pesek warga Simpang Kantor Medan Labuhan.

Selain itu lemahnya pengawasan Dinas Kehutanan Belawan yang membuat hutan bakau dan ruang hijau bias berpindah tangan kepada pengusaha yang membuat Kota Belawan dan sekitar mengalami banjir 2 hari sekali. Paling parah di Jalan Sumatera sudah sampai seukuran lutut orang dewasa. Di pajak baru Belawan dan Kampung Kolamn air sudah mencapai 1,5 meter yang mengakibatkan ditutupnya aktifitas kantor pemerintahan yang ada di sana saat banjir melanda.

Pemerhati Pelabuhan Belawan, Yusmawardi SH mengaku heran mengapa ruang hijau dan hutan bakau di Sicanang Belawan bisa ditimbun. Bagaimana kontrol Dinas Kehutanan Belawan dan pihak DPRD Dapim V Medan Utara menanggapi perampasan ruang hijau dan penimbunan hutan bakau sehingga dapat djual oleh kepling Belawan Sicanang.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) juga kecolongan dengan kepling sipenjual hutan bakau sehingga BPN bisa menerbitkan sertifikat ruang terbuka hijau.

Sampai saat ini kepling penjual hutan bakau sedang dicari-cari oleh Poldasu karena andilnya sangat besar dalam pembuatan surat ruiang hijau dan hutan bakau menjadi milik masyarakat.

Mengapa anggota DPRD Dapim V terkesan tidak peduli dengan  banjir yang ada di Medan Utara saat ini. Padahal seharusnya dilaporkan kep DPRD Kota Medan agar Kota Belawan tidak dilanda banjir bandang, ungkapnya.

PT Pelindo Cabang Medean Belawan juga dituding tidak peduli dengan Kota Belawan yang sudah hampir tenggelam karena tidak mau berkoordinasi dengan Pemko Medan begitu juga Walikotanya.

Mengapa Walikota Medan setelah terpilih keadaan warga masyarakat Belawan tetap saja dimarginalkan. Masyarakat Belawan tetap pasrah dengan keadaan ini. sebagian mereka terpaksa eksodus ke wilayah lain seperti ke Marelan dan kecamatan lainnya.

  • “Saya menghimbau kepada instansi terkait agar tidak tutup mata dengan keadaan ini. Jangan biarkan Belawan banjir setiap harinya jika hujan turun. Padahal pelabuhan Belawan merupakan tempat masuknya pendapatan devisa negara,” pungkas Yusmawardi. (SR)