Kepling Belawan Sicanang Diburon Poldasu Akibat Jual Hutan Bakau

Belawan, LN. Penimbunan ruang terbuka hijau (RTH) dan hutan bakau di Kota Belawan dan sekitarnya berujung terjadinya banjir rob. Jika sebelumnya banjir rob dapat diprediksi kapan datangnya namun kini tidak lagi setelah puluhan hektar hutan bakau dan ruang hijau di Kelurahan Sicanang ditimbun.

Padahal hutan bakau ini sebelumnya merupakan daya tarik Kampung Sicanang, satu-satunya kelurahan di Sumatera Utara yang masuk dalam daftar Kampung Iklim 2015 oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Entah dimana letak pemahaman Kepling Belawan Sicanang, Fadang tentang arti ruang terbuka hijau dan daya tarik  hutan bakau sebagai jalur wisata yang ada di Kampung Sicanang sehingga tega menjualnya dengan melakukan pemalsuan surat tanah ruang hijau kepada sejumlah pengusaha PT Belawan Indah dan kontraktor alat berat, Pesek warga Simpang Kantor Medan Labuhan.

Selain itu lemahnya pengawasan Dinas Kehutanan Belawan yang membuat hutan bakau dan ruang hijau bias berpindah tangan kepada pengusaha yang membuat Kota Belawan dan sekitar mengalami banjir 2 hari sekali. Paling parah di Jalan Sumatera sudah sampai seukuran lutut orang dewasa. Di pajak baru Belawan dan Kampung Kolamn air sudah mencapai 1,5 meter yang mengakibatkan ditutupnya aktifitas kantor pemerintahan yang ada di sana saat banjir melanda.

Pemerhati Pelabuhan Belawan, Yusmawardi SH mengaku heran mengapa ruang hijau dan hutan bakau di Sicanang Belawan bisa ditimbun. Bagaimana kontrol Dinas Kehutanan Belawan dan pihak DPRD Dapim V Medan Utara menanggapi perampasan ruang hijau dan penimbunan hutan bakau sehingga dapat djual oleh kepling Belawan Sicanang.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) juga kecolongan dengan kepling sipenjual hutan bakau sehingga BPN bisa menerbitkan sertifikat ruang terbuka hijau.

Sampai saat ini kepling penjual hutan bakau sedang dicari-cari oleh Poldasu karena andilnya sangat besar dalam pembuatan surat ruiang hijau dan hutan bakau menjadi milik masyarakat.

Mengapa anggota DPRD Dapim V terkesan tidak peduli dengan  banjir yang ada di Medan Utara saat ini. Padahal seharusnya dilaporkan kep DPRD Kota Medan agar Kota Belawan tidak dilanda banjir bandang, ungkapnya.

PT Pelindo Cabang Medean Belawan juga dituding tidak peduli dengan Kota Belawan yang sudah hampir tenggelam karena tidak mau berkoordinasi dengan Pemko Medan begitu juga Walikotanya.

Mengapa Walikota Medan setelah terpilih keadaan warga masyarakat Belawan tetap saja dimarginalkan. Masyarakat Belawan tetap pasrah dengan keadaan ini. sebagian mereka terpaksa eksodus ke wilayah lain seperti ke Marelan dan kecamatan lainnya.

  • “Saya menghimbau kepada instansi terkait agar tidak tutup mata dengan keadaan ini. Jangan biarkan Belawan banjir setiap harinya jika hujan turun. Padahal pelabuhan Belawan merupakan tempat masuknya pendapatan devisa negara,” pungkas Yusmawardi. (SR)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s