Ricuh, Belum Keluar Dari Gerbang Polrestabes Raja Ditangkap Lagi

Medan, LN (16/3). Terduga otak penembakan Indra Gunawan alias Kuna, pengusaha airsoftgun  Siwaji Raja ditangkap kembali padahal belum sempat melangkahkan kakinya ke pintu gerbang Polrestabes Medan.  Wajahnya yang sempat sumringah menjadi masam saat sepasukan petugas berpakaian preman datang menunjukkan surat penangkapan.

“Selamat pagi pak, kami membawa surat penangkapan terhadap bapak,” kata petugas kemudian memiting Raja, Selasa (14/3/2017).

Situasi pun sempat tegang dan terjadi saling dorong mendorong antara keluarga Raja, tim penasehat hukum Raja dan  polisi. Saat aksi saling tarik terjadi, Raja sempat terhuyung dan nyaris jatuh. Polisi langsung menggeretnya ke rumah tahanan polisi (RTP) Polrestabes Medan.

BREAKING NEWS: Ricuh, Siwaji Raja Ditangkap Lagi padahal Baru Selangkah Keluar Polrestabes

Foto : Siwaji Raja saat ditangkap kembali usai dilepas beberapa saat di Polrestabes Medan, Selasa (14/3)

Hakim Kabulkan Praperadilan Raja

Majelis hakim tunggal Erintuah Damanik, yang memimpin sidang praperadilan Siwaji Raja alias Raja Kalimas beranggapan penyidik Polrestabes Medan, tak miliki alat bukti yang kuat.

Penilaian tersebut membuatnya mengabulkan praperadilan Raja.

Atas keputusan tersebut, penetapan status tersangka Raja, yang disebut-sebut sebagai otak pelaku pembunuhan pengusaha airsoft gun Indra Gunawan alias Kuna, harus bebas demi hukum.

Erintuah merasa kepolisian tak mampu menghadirkan saksi fakta, yakni orang yang melihat langsung bahwa Raja memerintahkan atau membayar para tersangka lainnya untuk membunuh Kuna.

Selain tak punya alat bukti, hakim yang juga Humas PN Medan itu menyebut, Polrestabes teledor lantaran menembak mati tersangka Rawindra alias Rawi, yang disebut-sebut mengetahui aksi penembakan Kuna.

“Saksi itu, yang melihat dan mengalami. Samun, saksi yang dihadirkan termohon hanya saksi yang mendengar. Dia hanya mendengar Raja pernah mengancam Kuna. Ini kan tidak cukup bukti. Saksi polisi juga mengatakan ada pengakuan dari Rawindra, yang dibayar Raja. Tapi kenapa si Rawi ditembak Dia ini kan kuncinya, kenapa harus dihilangkan? Berarti polisi teledor,” ungkap Erintuah saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/3/2017).

Erintuah menambahkan, surat perintah penyidikan, surat penetapan tersangka dan surat penahahan Raja batal dan tidak mempunyai kekuatan mengikat. “Memerintahkan agak pihak termohon (Polrestabes Medan) mengeluarkan pemohon (Siwaji Raja) dari dalam rumah tahanan negara,” perintah Erintuah.

Dalam amar putusan hakim, termohon diperintahkan membayar uang pengganti kerugian materil yang dialami Raja sebesar Rp 1 juta.

Uang pengganti ini lebih rendah dibanding gugatan yang diajukan kuasa hukum Raja. yakni Rp 1 miliar.

Dalam putusan itu, pihak Polrestabes Medan juga diminta untuk membersihkan nama baik Raja dalam bentuk pengumuman di media nasional cetak dan elektronik.

Kuna atau Indra Gunawan. (Tribun-Medan.com/ HO)
Jenazah Kuna atau Indra Gunawan yang ditembak mati, Rabu (18/1-2017)
Sumber :  Tribun Medan.com

Dalam putusan ini, hakim juga menganulir permohonan Raja, yang sebelumnya meminta agar permohonan maaf dilakukan di tiga media cetak dan tiga media elektronik nasional.

“Juga karena kondisi keuangan negara yang tidak stabil, hakim hanya meminta agar pihak termohon merehabilitasi nama pemohon di satu media cetak nasional dan satu media elektronik nasional,” tutur Erintuah.

Sementara itu, Bidang Hukum Polda Sumut Iptu Rismanto Purba, yang mewakili Polrestabes Medan tak banyak bicara usai majelis hakim mengabulkan praperadilan Raja. Sepanjang persidangan, Rismanto serius memperhatikan pertimbangan majelis hakim.

Terpisah, Kuasa Hukum Raja, Marcos Kaban, mengatakan, akan secepatnya mengeluarkan kliennya dari balik jeruji besi sel sementara Polrestabes Medan. Untuk sementara waktu setelah dibebaskan, Raja akan berada di Medan seraya menggelar syukuran.

“Kami banyak bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada semua masyarakat yang mendukung kami selama ini, khususnya PHDI yang telah banyak memberikan dukungannya,” kata Marcos.

Menurutnya, keputusan majelis hakim sangat tepat mengabulkan praperadilan Raja. Sebab, selama persidangan, kepolisian tak mampu membuktikan Raja sebagai otak pelaku dan membiayai tersangka lainnya untuk pembunuhan Kuna.

“Polisi dengan gampangnya menetapkan klien kami jadi tersangka. Kalau Raja disebut membiayai pembunuhan Kuna, orang yang melihat dia memberi uang atau membiayainya saja tak dapat dibuktikan. Kita segera memulihkan nama baik Raja,” kata Marcos.

Ia sempat menyinggung pernyataan keluarga Kuna selama ini di media. Pernyataan yang keliru tersebut ia nilai sangat merugikan nama baik Raja. Tak tanggung, rencananya ia berencana menjebloskan keluarga Kuna ke penjara.

“Penjara wajib dibalas penjara. Wajib mereka merasakan bagaimana rasanya di dalam penjara seperti yang dirasakan Raja,” ungkap Marcos.

Sementara itu, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel angkat bicara menyangkut dikabulkannya praperadilan Raja.

“Dikabulkannya gugatan itu hal yang biasa dalam prapid. Itu merupakan suatu upaya hukum yang disediakan dalam acara pidana,” kata Rycko saat menyambangi Polrestabes Medan, kemarin.

Jenderal bintang dua ini menambahkan, setelah mendengar kemenangan Raja, pihaknya akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Setelah itu, katanya, pihaknya akan melakukan gelar perkara.

“Pertama peyidik harus melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait proses pembuktian. Di persidangan, bisa saja ada hal yang belum disampaikan penyidik, sehingga hakim belum tahu yang sebenarnya,” kata Rycko.
Belum Bebas

Meski parperadilannya dikabulkan majelis hakim, namun Raja belum dibebaskan hingga sekitar pukul 21.30 WIB. Tidak diketahui secara pasti apa alasan Polrestabes tidak mematuhi putusan yang dibacakan hakim Erintuah.

Guna mengetahui perkembangan kasus ini, Tribun dan beberapa awak media sempat berusaha masuk menuju ke piket Satreskrim Polrestabes Medan. Sayangnya, begitu melintasi portal depan dekat pintu masuk, Wakil Kepala Polrestabes Medan, AKBP Mahedi Surindra mengusir sejumlah jurnalis.

Lantaran dilarang, Tribun dan rekan jurnalis kembali ke ruang pressroom di depan Polrestabes. Hingga pukul 21.15 WIB, keluarga Raja masih berada di Polrestabes Medan. Beberapa keluarganya tampak hilir mudik di pinggir jalan, dan duduk di warung kopi yang ada di depan Polrestabes Medan.

Di depan pintu masuk Polrestabes, sepasukan petugas Sabhara berbaris. Tak hanya itu, beberapa petugas provost juga ikut berjaga di depan pintu masuk.

Kuasa hukum Raja juga tak tahu pasti kenapa kliennya belum dibebaskan. Padahal, kata Marcos, mereka sudah sejak siang berada di Polrestabes.

“Tadi ada beberapa perwakilan yang naik ke lantai dua. Saya juga kurang tahu persis kenapa begitu lama proses administrasinya,” kata Marcos.

Meski terkesan diulur-ulur, Marcos dan perwakilan keluarga Raja tetap bertahan di Polrestabes Medan. Hingga jelang pukul 21.30 WIB, pembebasan belum juga dilakukan.

Sementara itu Kapolrestabes Medan, Kombes Sandi Nugroho angkat bicara menyangkut penangkapan kembali Siwaji Raja alias Raja Kalimas. Kata Sandi, penangkapan ini dilakukan karena penyidik berkeyakinan pengusaha tambang itu terlibat dalam kasus penembakan Kuna.

“Setelah gelar perkara, yang bersangkutan masih kuat dan patut diduga sebagai pelaku yang turut serta. Oleh karena itu, yang bersangkutan kami tetapkan kembali sebagai tersangka,” kata Sandi, Selasa (14/3/2017). (SR)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s