Bulan: April 2017

Tarian Massal Maena Lebih Berbudaya Daripada Ciuman Massal di Nias

Medan, LN.  Sejak beberapa tahun belakangan ini setiap ada malam pentas seni dari kabupaten/kota dari Kepulauan Nias di open stage PRSU yang di selenggarakan di Tapian Daya Medan Tarian Massal Maena selalu saja dipentaskan di open stage tersebut. Apakah tarian massal Maena itu?

Tarian tradisional satu ini merupakan tarian suka cita masyarakat suku Nias di Sumatera Utara. Tari Maena adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Nias, Sumatera Utara. Tarian ini termasuk jenis tarian rakyat yang dilakukan secara bersama-sama  atau massal. Tari Maena ini biasanya sering ditampilkan di berbagai acara, seperti penyambutan tamu terhormat, pernikahan, dan acara seremonial adat Nias lainnya.

Menurut sejarahnya, Tari Maena ini merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat suku Nias yang sudah ada sejak dahulu kala, dan sudah diwariskan secara turu-temurun hingga sekarang. Sejak dulu tarian ini sering dilakukan sebagai bagian dari seremonial adat masyarakat suku Nias. Kebiasaan tersebut kemudiaan terus berlanjut dan masih sering dilakukan hingga sekarang.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Maena difungsikan sebagai tarian hiburan atau bagian dari prosesi seremonial suatu acara. Bagi masyarakat suku Nias sendiri, tarian ini tentu memiliki makna khusus didalamnya, salah satunya adalah makna persatuan dan kebersamaan. Hal ini juga terlihat dari bagaimana mereka menari dan melakukannya secara bersama-sama dengan penuh suka cita. Semakin banyak yang mengikuti, suasana acara menjadi semakin hangat dan meriah.

Image result for foto tarian massal maena nias

Foto : Tarian Massal Maena dari Kepulauan Nias

Dalam Tari Maena bisa diikuti oleh para penari pria maupun wanita. Untuk jumlah penari dalam acara seremonial  adat biasanya tidak ditentukan, sehingga bisa diikuti oleh siapa saja. Dalam pertunjukannya, biasanya diawali dengan pantun yang dibawakan oleh Sanutuo Maena (tetua adat/sesepuh suku).  Untuk pantun yang dibawakan biasanya disesuaikan dengan tema acara. Kemudian dilanjutkan dengan syair maena (fanehe maena) yang dilantunkan semua penari sambil menari.

Beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Februari 2017 di hari Valentine terjadi aksi ciuman masasal yang dilakukan oleh beberapa pasang suami istri PNS di Nias Selatan yang terindikasi meniru budaya Barat. Hal ini menimbulkan kontroversi terhadap masayarakat Sumut yang memprotes aksi ciuman massal tersebut.

“Jika dikaitkan dengan aksi ciuman massal dalam memperingati Hari Valentine di Nias Selatan Februari 2017 yang lalu maka tarian massal Maena ini jauh lebih beradab daripada ciuman massal tersebut. Meski pun infonya bahwa yang melakukan aksi ciuman massal tersebut notabene adalah suami istri yang PNS namun mempertontonkan kemesraan di depan publik secara sangat tidak etis untuk budaya ketimuran saat ini yang memang sudah tergerus nilai moralnya. Secara tidak langsung remaja dan anak-anak yang melihat foto-foto ciuman orang tua di depan publik akan membuat mereka ingin menirunya. Budaya Barat memang tidak pantas ditiru jika buruk efeknya bagi anak-anak dan kaum remaja. Karena anak-anak dan remaja yang masih mencari jati dirinya lebih suka meniru meski pun hal buruk. Janganlah sampai para remaja di negeri ini semakin tidak paham tentang moral dan bisa jadi dengan sesukanya melakukan aksi ciuman di depan umum tanpa malu-malu lagi untuk mengumbar kemesraan dengan pacarnya. Apalagi pengaruh gagdet juga telah mempengaruhi moral remaja di negeri ini ” demikian ungkap Mara Salem Harahap seorang aktifis di Sumut saat ditanyakan tentang aksi ciuman massal tersebut lewat selular, Jum’at (14/4). (SR)

 

 

 

 

Iklan

Prof. DR H. Paul Sirait SKM, MM, MKes Dikukuhkan Menjadi Guru Besar STIKES Sumut

Medan, LN. Bertempat di Santika Dyandra Medan berlangsung pengukuhan Prof. H. DR. Paul Sirait SKM, MM, MKes sebagai Guru Besar STIKES Sumut,  Kamis (13/4).
Dalam acara tersebut dihadiri Gubsu T. Erry Nuradi, dosen-dosen STIKES, civitas akademisi STIKES Sumut, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan Sumut.

Dalam kata sambutannya T. Erry menyebutkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi mencetak sarjana, master dan doktor saja namun juga seorang profesor atau guru besar.

Foto : Gubernur Sumut T. Erry Nuradi dan Guru Besar STIKES Sumut yang baru dikukuhkan di Santika Dyandra, Kamis (13/4).
“Guru Besar dan tidak disebut sebagai Dosen Besar, karena hal ini mengandung arti bahwa seorang Guru Besar pada hakikatnya adalah seorang pendidik sekaligus peneliti yang hasil penelitiannya ditunggu oleh masyarakat luas sebagai bagian dari wujud pengabdiannya,” ucap Tengku Erry saat menghadiri Pengukuhan Prof DR H Paul Sirait, SKM, MM, MKes sebagai Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Sumut di Hotel Santika Medan, Kamis (13/4/2017).
Dalam kesempatan itu, Gubsu Erry juga mengatakan bahwa membicarakan SDM kaitannya dengan daya saing suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari peranan Perguruan Tinggi sebagai kawah candara dimuka untuk melahirkan SDM yang berkualitas.
“Atas nama Pemerintah Provsu, pribadi dan keluarga, kami mengucapkan Selamat kepada Pak Paul Sirait serta keluarga atas raihan prestasi berupa jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar. Masyarakat Sumut bangga karena kita tahu bahwa belum banyak akademis di bidang keperawatan yang telah mencapai jabatan akademik tertinggi ini,” tutur Erry.
T. Erry berharap, Prof Paul Sirait dapat memberikan solusi sekaligus motivasi khususnya bagi para dosen untuk terus memacu prestasi dalam pengembangan keilmuannya sehingga dapat pula mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai dosen sudah barang tentu menjadi seorang Guru Besar. “Jadikan gelar ini sebagai spirit yang senantiasa membangkitkan inspirasi baru guna melahirkan karya-karya yang lebih brilian dan bermanfaat bagi khalayak umum,” tandas Erry.
Sebelumnya, Prof Paul Sirait dengan orasi ilmiahnya berjudul ‘Kemiskinan, Pelayanan Kesehatan dan Indeks Pembangunan Manusia’, menyebutkan bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah yang paling mendesak untuk segera diatasi terutama di negara berkembang dan negara miskin dimana angka kemiskinan di Sumut hampir sama dengan angka kemiskinan nasional yaitu 10,35 persen.
Ketua Yayasan STIKes Sumatera Utara Asman Karo-karo melaporkan bahwa Guru Besar Keperawatan yang ada di Indonesia masih 6 orang maka dengan dikukuhkannya tadi Prof Paul Sirait, jumlah  Guru Besar menjadi 7 orang. (SR)